sukses-berjualan-cilok

Sukses Berjualan Cilok, Harsono Jadi Miliarder Jember

Sukses Jual Cilok, Harsono Jadi Miliarder | Miliki 3 apartemen dan 13 rumah untuk disewa!

sukses-berjualan-cilok

Pernahkah Anda mendengar orang yang sukses menjual cilok? Kisah Harsono akan membuktikannya, geng. Berkat cilok, ia memiliki miliaran aset yang dimilikinya dan dijuluki “Tukang Cilok Naik Haji”.

Selain Risma, truk Arab yang menjadi miliuner, Harsono adalah pengusaha makanan yang pernah menyabet gelar “Miliarder”.

Cilok Edy adalah cilok yang sangat populer di kota Jember. Gerobak-gerobak tersebut sering dijumpai di berbagai area kampus seperti Universitas Jember dan Universitas Muhammadiyah Jember, serta di depan kantor DRPD Jember.

Jajanan ini disukai berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, pelajar hingga orang dewasa.

Diketahui Cilok Edy juga membuka sejumlah cabang di Probolinggo dan Bondowoso – seperti dikutip Kompas.

Karena popularitas dan popularitasnya, Cilok Edy mampu menghasilkan Rp. 5 juta dari empat kelompok orang. Bahkan, penjualannya mencapai Rp8 juta sehari sebelum pandemi merebak.

Bos cilok di Jember, Harsono, mengumumkan telah membeli 3 apartemen, 13 rumah kontrakan, dan sawah. Ia juga menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada 2019.

Harsono dan istrinya tidak meraih kesuksesan instan dalam membangun bisnis Cilok Edy.

Awal mula penjualan Cilok

Harsono awalnya bekerja sebagai tukang ojek sepeda. Namun, pekerjaannya dihentikan ketika dia dan istrinya, Siti Fatimah, tidak mampu melunasi pinjaman sepeda mereka – yang mengakibatkan sepeda disita.

Setelah itu, Harsono sempat menjadi pengendara sepeda dan bekerja sebagai petugas kebersihan sukarelawan Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Jember.

Ide menjual Cilok datang dari ayahnya yang juga menjual Cilok di Bali.

Selain itu, tidak ada cilok yang terbuat dari daging di Jember pada waktu itu, tetapi terutama yang terbuat dari tepung. Hal ini tentu menjadi peluang bagi Harsono.

Pada tahun 1997, ia dan istrinya meniru usaha ayahnya dengan menjual Rindercilok dengan modal awal 20.000 rupee.

Putus asa

Harsono mulai berjualan cilok pada pukul 06.30 WIB hingga usai adzan Isya. Biasanya ia menempuh berbagai sekolah di kecamatan Sumbersari hingga kecamatan Kaliwates.

Barang tidak langsung keluar, karena saat itu pun cilok masih menjadi makanan baru, sehingga banyak orang tua yang tidak mengizinkan anaknya membeli cilok di sekolah.

Penghasilan yang diperolehnya hanya sekitar Rp 10.000, sehingga Harsono enggan menjual Cilok dan memutuskan kembali menjadi pengendara sepeda selama dua bulan.

Namun, dorongan istrinya membuatnya bersemangat untuk menjual cilok lagi hingga namanya dikenal masyarakat setelah lima tahun berjualan.

Ia memberi nama “Cilok Edy” agar mudah diingat, meski tidak ada hubungannya dengan Harsono dan keluarganya.

Popularitas Cilok Edy terus meningkat

Ditambah permintaan cilok yang terus meningkat, Harsono mengajukan pinjaman 15 juta rupee ke bank untuk menambah lima rombong cilok.

Dari lima kelompok, Cilok Edy berkembang menjadi sepuluh kelompok dan bahkan membuka cabang di Probolinggo, Bondowoso dan Lumajang – meskipun akhirnya ditutup karena penipuan karyawan.

Sebagai perusahaan yang sedang berkembang pesat, Harsono dan Siti Fatimah selalu memastikan bahwa cita rasa produksi Cilok mereka tidak pernah berubah, tetapi cita rasanya terus bertambah.
Investasikan secara aktif dan kembangkan bisnis Anda

Pola pikir wirausaha Harsono dan istrinya mendorong mereka berdua untuk tidak hanya menabung untuk penjualan, tetapi juga untuk berinvestasi.

Tiga rumah susun pasangan itu kemudian disewakan, sedangkan 13 rumah disewakan dan dijadikan kos-kosan.

Dia bisa menggunakan aset tersebut untuk berbisnis sambil menghasilkan uang sehingga perusahaannya bisa menjalankan bisnisnya agar tetap berjalan lancar.

Menurut Harsono dan istrinya, kunci memulai bisnis adalah kesabaran dan kegigihan dalam menghadapi proses hingga membuahkan hasil yang diharapkan.

Sumber :